Huruf Jawab : Ketahui 8 Huruf Yang Digunakan Untuk Menjawab Pertanyaan
Huruf dalam bahasa Arab sangat unik. Salah satunya adalah yang kita kenal dengan harfu jawaabin atau huruf jawab.
Dalam bahasa indonesia huruf jawab kita kenal dengan huruf tanggapan.
Ketika kita mendapatkan pertanyaan dari orang lain, maka biasanya kita menjawab dengan tanggapan “ya” atau “tidak”.
Berbeda dengan bahasa Arab. Huruf jawab memiliki kurang lebih 8 macam tanggapan.
Dalam kitab Al-Muyassar Fiy ‘Ilmin Nahwi, Jami’ud durus al-Arabiyyah dan lain-lain menyebutkan bahwa huruf jawab ada 8 macam:
1. نَعَمْ (Ya)
Huruf ini adalah yang paling sering di gunakan. Penggunaan huruf jawab ini adalah dengan memperkirakan terlebih dahulu bentuk pertanyaannya.
Contoh :
أَهَذَا قَلَمُكَ ؟ نَعَمْ
“Apakah ini pena milikmu? Ya”
Maksudnya adalah, “Ya, pena itu milikku”
2. أَجَلْ (Ya)
Ajal memiliki makna yang sama seperti na’am. Yaitu “Ya”
Contoh :
أَيَنْجَحُ ابْنَكَ ؟ أَجَلْ
“Apakah anakmu lulus? Ya”
3. إِيْ (Ya)
Begitu juga dengan Iyy memiliki makna yang sama. Namun penggunaannya memiliki ketentuan.
Yaitu iya tidak di gunakan sebelum huruf sumpah. Jadi letaknya sebelum huruf sumpah.
Seperti Firman Allah Ta’ala:
قُلْ إِيْ وَرَبِّيْ إِنَّهُ لَحَقٌّ
“Katakanlah: ya, demi tuhanku. Sesungguhnya hal itu benar adanya”
Huruf sumpahnya adalah وَ bermakna “demi” dan إِيْ terletak sebelum وَ.
Dengan kata lain, adanya iyy untuk memperkuat sumpah.
4. بَلَى (Ya)
Balaa ini bermakna Ya atau Tentu.
Biasanya penggunaannya setelah pertanyaan negatif atau nafiy maka jadilah jawabannya positif.
Contoh :
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ؟ قَالُوا بَلَى
“Bukankah aku Rabb kalian? mereka menjawab: tentu saja!”
أَلَسْتُ merupakan pertanyaan negatif. “Bukan kah Aku”
Apabila kita menjawabnya dengan huruf نَعَمْ maka maknanya adalah “Ya, Engkau bukan Rabb kami”
Tapi kalau kita mengakui bahwa Allah Rabb kita, maka kita menjawab pertanyaan negatif dengan بَلَى bukan نَعَمْ.
5. جَيْرِ (Ya)
Jairi semakna dengan na’am.
Namun penggunaannya kebanyakannya terletak sebelum huruf sumpah.
Contoh : جَيْرِ لَأَفْعَلَنَّ (Ya, sungguh aku akan mengerjakannya)
Maknyanya, نَعَمْ وَاللَّهِ لَأَفْعَلَنَّ (Ya demi Allah aku akan mengerjakannya).
Catatan : Diantara para ‘ulama ada yang memposisikan جَيْر dengan posisi isim yang bermakna حَقًّا (sungguh).
Al Jauhariy berkata :
قَوْلُهُمْ جَيْرِ لَاَتِيَنَّكَ، بِكَسْرِ الرَّاءِ يَمِيْنٌ لِلْعَرَبِ بِمَعْنَى حَقًّا
“Ungkapan جَيْرِ لَاَتِيَنَّكَ dengan (huruf) ro’ kasroh artinya adalah sumpah yang semakna dengan حَقًّا”
6. إِنَّ (Ya)
Inna disini bukanlah bermakna “sesungguhnya” melainkan inna yang berbeda yang memiliki makna “ya”.
Yaitu inna yang digunakan untuk menjawab pertanyaan.
Contoh :
هَلْ رَجَعَ أَحْمَدُ ؟ إِنَّه
“Apakah ahmad telah kembali? Ya”
Huruf ه setelah kata إِنَّ bukan lah dhomir (kata ganti) melainkan ha as sakt. Yaitu ha yang ditambahkan ketika berhenti.
7. لَا (Tidak)
Fungsi laa disini adalah untuk menegatifkan jawaban
Contoh :
هَلْ شَرِبْتُمْ ؟ لَا
“Apakah kalian minum? Tidak”
8. كَلَّا (Tidak)
Kalla mengandung unsur penolakan yang tegas. Berbeda dengan laa.
Misalnya, kita di ajak untuk berbuat maksiat, atau berbuat kejelekan lainnya maka apabila kita menjawabnya dengan kallaa maka dapat difahami bahwa kita benar-benar tidak mau berbuat demikian.
Namun, terkadang kalla juga bermakna “sungguh”.
Itulah beberapa huruf jawab yang digunakan untuk menjawab pernyataan atau pertanyaan dalam ilmu nahwu secara praktis. Semoga dapat menambah wawasan kita semua.
Referensi
- Kitab Al-Muyassar Fiy ‘Ilmin Nahwi karya Aceng Zakaria
- Web Shorof Mudah